Showing posts with label Kepemimpinan Baru. Show all posts
Showing posts with label Kepemimpinan Baru. Show all posts

Monday, August 17, 2009

Integritas Dalam Kepemimpinan

November 1, 2007 by suaraatr2025

1. PENDAHULUAN

Kepemimpinan yang dibangun atas kekuatan berpikir dengan kebiasaan yang produktif yang dilandasai oleh kekuatan moral berarti ia memiliki “Integritas” untuk bersikap dan berperilaku sehingga ia mampu memberikan keteladanan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan perubahan yang terkait dengan proses berpikir. Oleh karena itu seseorang yang memiliki kepemimpinan yang mampu menerapkan arti dan makna integritas berarti ia meyakini benar bahwa jika hanya orang yang kuat yang dapat bertahan dan keinginan menghambat kemajuan orang, menjadi kaum penjilat, bermuka dua , tidak akan menjadi orang yang mampu mengikuti perubahan ?

Dengan pemikiran diatas, maka “Integritas” menjadi kunci kepemimpinan “bagaimana ia membuat keputusan yang benar pada waktu yang benar” dalam bersikap dan berperilaku karena disitulah terletak pondasi dalam membangun kepercyaan dan hubungan antara individu dalam organisasi. Dimana kita memperhatikan legalitas dan prosedur yang harus ditempuh, namun yang lebih penting “Integritas” seseorang dapat menuntun mana yang jujur dan yang tidak jujur yang tidak mudah di kacaukan hal-hal yang bersifat formal tapi dapat menyesatkan.

Jadi kepmimpinan yang memiliki “intergritas”, maka ia menyadari benar bahwa rimba hukum memang tidak pernah jelas, itu tidak berarti ia akan mempergunakan dengan dalih kekuasaan untuk ikut bermain dalam arena tersebut, karena ia akan menolak untuk ikut serta dalam persaingan yang tidak sehat, walaupun hal itu merupakan tugas yang akan dilaksanakannya. Oleg karena ia dalam bersikap dan berperilaku tidak akan melepaskan diri dari membuat suatu keputusan yang adil dan objektif. Jadi dengan intergritas itu berarti ia memiliki manajemen intuitif untuk mengintergrasikan otak kanan dan kiri dengan hati sebagai keterampilan manajemen abad baru.


2. MEMBANGUN INTEGRITAS DIMULAI DARI DIRI SENDIRI

Kepemimpinan yang konsisten menunjukkan keteladanan dalam mempengaruhi orang lain berarti memberikan daya dorong untuk memotivasi dirinya dalam membangun integritas, yang secara tak langsung mendorong orang lain untuk memahami secara mendalam prinsip dalam menumbuh kembangkan integritas yang kita sebut dengan prinsip pertama adalah menumbuh kembangkan kepercayaan dan keyakinan dalam merubah kesadaran inderawi ke tingkat yang lbih baik ; prinsip kedua adalah memberi saling menghormati dan menghargai orang lain ; prinsip ketiga adalah memiliki kemampuan dalam kedewasaan rohaniah, sosial, emosional dan intelektual.

Untuk menegakkan prinsip integritas diatas, maka setiap individu harus mampu memahami makna dan arti integritas yang dapat diaplikasikan dalam kehidupannya. Caranya mendorong orang untuk menggerakkan kekuatan pikiran dengan memahami dari unsur huruf menjadi kata bermakna sebagai suatu pendekatan untuk memotivasi diri dalam membangun kepercayaan dan keyakinan sebagai titik tolak agar ia mampu berbuat sesuatu untuk kemajuan dirinya, untuk apa ia mengikat diri kedalam suatu organisasi.

Integritas dapat dipahami dari makna huruf menjadi kata bermakna yaitu (I)krar, (N)iat, (T)abiat, (E)mosional, (G)una, (R)asional, (I)hsan, (T)awakkal, (A)manah, (S)abar. Jadi bila kata tersebut disusun kedalam suatu untaian kalimat yang bermakna, maka pemahaman INTEGRITAS adalah manusia secara sadar membuat (I)krar dengan membangun (N)iat sebagai keinginannya secara ihklas untuk meningkatkan kedewasaan (E)mosional agar memberi (G)una kedalam pikiran (R)asional dengan berbuat (I)hsan bakal memproleh kebaikan duniawi yang berlandaskan dengan (T)aqwa, (A)manah dan (S)abar. untuk bersikap dan berperilaku.

Dengan pemahaman itu diharapkan menjadi daya dorong untuk bersikap dan berperilaku bahwa “dapatkah kepemimpinan anda dan pengikutnya mencapai keberhasilan untuk tetap memiliki “integritas” dalam usaha-usaha membangun budaya organisasi yang kuat sebagai wahana untuk melaksanakan transformasi dalam perubahan sikap dan perilaku untuk mengikat diri kita bersama dan membangkitkan jiwa kepuasaan di dalam diri kita. Jadi integritas menjadi pnuntun dan wasit agar kita aka konsisten sehingga keyakinan kita akan dicerminkan oleh perbuatan kita, yang akan menunjukkan bahwa tidak akan ada perbedaan antara apa yang kelihatan dan apa yang diketahui lingkungan kita tentang diri kita, apakah berada dalam saat berkuasa atau tidak berkuasa.

Jadi integritas bukan hanya penuntun dan wasit antara dua keinginan yang kita sebut dengan “orang yang bahagia dan jiwa yang terbagi” Dengan pemahaman integritas dari sudut kata yang bermakna yang telah kita kemukakan diatas, maka membebaskan kita untuk menjadi diri yang utuh tidak peduli apa yang akan datang kepada kita.sehingga tingkat kedewasaan kita akan menunjukkan “kalau apa yang saya katakan dan apa yang saa lakukan sama, hasilnya konsisten dalam bersikap dan berperilaku.

3. PENUTUP

Apa yang dapat saya lakukan hari ini. Adalah menjawab, apakah saya bangga dengan integritas dalam kepemimpinan saya ? Jika tidak, adakah kesadaran anda untuk berusaha mengetahuinya ? Cobalah renungkan kembali dengan kepemimpinan anda untuk melihat apa yang terjadi disekeling anda yang terkait dengan pemahaman makna dan arti integritas kedalam organisasi yang akan memperlihatkan apa-apa dari setiap antar individu yang sesungguhnya begitu penting, sehingga integritas juga akan menggambarkan citra orang lain memandang individu anda dalam organisasi.

Jadi menumbuh kembangkan integritas begitu penting dalam satu organisasi karena ia dapat menjadi penuntun dan wasit untuk membina kepercayaan dan keyakinan, meluruskan arti penting dalam merumuskan standar yang tinggi, landasan nilai yang sangat mempengaruhi, mendorong terbentuknya reputasi dan citra, mendorong untuk lebih menghayati sendiri sebelum mempengaruhi orang lain, mendorong orang untuk mencapai prestasi sesuai dengan kemampuan sendiri, mendorong orang lain untuk lebih mempercayai kepemimpinan yang mampu memberikan keteladanan.
Selengkapnya...

Menggelorakan Jiwa Besar Kepemimpinan

November 1, 2007 by suaraatr2025

1. PENDAHULUAN

Pernahkan anda membaca yang diungkapkan oleh para futurist seperti Alvin Toffler, John Naisbit, Frank Feather, Kenichi Ohmae, Ervin Laszlo, Dimitri Mahayana dll.yang dapat kita pergunakan sebagai refrensi mengenai konten yang terkait dengan informasi masa depan bahkan infrmasi tersbut begitu banyak kita peroleh setelah memasuki abad 21. Yang menjadi pertanyaan kita adalah begitu banyak informasi mengenai masa depan, adakah informasi itu dapat dimanfaatkan bagi anda untuk menggerakkan kekuatan berpikir. Inilah satu kenyataan yang kita hadapi bahwa begitu banyak infomasi yang kita miliki tapi kita tidak dapat mempergunakan kedalam suatu proses menjadi bermanfaat.

Oleh karena itu, diperlukan daya dorong untuk menggelorakan jiwa besar kepemimpinan untuk merubah dari pemahaman konten menjadi proses melalui kemampuan dengan membuat pertanyaan dengan mengungkit : Kesadaran dalam What to do ; Kecerdasan dalam Why to do it : Akal dalam How to do it ; Niat dan hasrat dalam When to do it. Dengan mengungkit alat pikiran melalui pertanyaan yang kita kemukakan tersebut, maka arus pikiran anda mampu menggerakkan energi dan informasi yang ada dalam diri anda berarti yang anda merencanakan bahwa tindakan hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.


Dengan pemikiran tersebut dapat mendorong keinginan tahuan untuk memahami lebih mendalam dalam menghadapi ketidakpastian, sehingga mencari jawaban bagaimana suatu gaya kepemimpinan dapat diterima dan diterapkan dalam menyongsong gelombang perubahan dengan kesamaan visi dalam kepemimpinan agar dapat menuntun pola pikir lama ke pola pikir baru artinya kesenjangan itu terjadi karena sikap dan perilaku kita yang bersifat reaktif, dalam menghadapi setiap masalah yang timbul. Sedangkan yang dibutuhkan adalah kemampuan menggelorakan jiwa besar kepemimpinan dalam usaha mencari jawaban atas “bagaimana cara membantu orang lain mencapai potensi penuh mereka”.

Sejalan dengan pikiran itu, maka diperlukan suatu gaya kepemimpinan untuk membangun dan mengembangkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang mampu memiliki kompetensi untuk menggerakkan orang lain menjadi suatu “kepribadian yang kiblat kepada prestasi bukan kepada kiblat kepada manusia”, sehingga mampu membangun iklim untuk menumbuh kembangkan makna aplikasi dari usaha-usaha yang berencana dan terarah dalam mendorong orang untuk melakukan perubahan dalam menggerakkan kekuatan berpikir dari yang reaktif menjadi proaktif.

2. KEBIASAAN YANG PRODUKTIF MEMBANGUN PRINSIP-PRINSIP KEPEMIMPINAN

Bertitik tolak dari pemikiran membangun kebiasaan yang produktif secara terus menerus untuk meningkatkan penguasaan ilmu, keterampilan dan niat sebagai alat untuk membangun wawasan dan imajinasi sehingga ia mampu menggerakkan kekuatan berpikir untuk mewujudkan “kekuatan kepemimpinan” dalam bentuk menggelorakan jiwa besar kepemimpinan kedalam : Apa yang anda pikirkan ; Apa arti keberadaan anda : Apa arti kekuatan satu pemikiran dalam kebersamaan visi anda ; Apa arti menempa watak keteladanan anda ; Apa arti mental yang sehat dalam kepribadian anda.

Dengan kebiasaan yang produktif, akan mampu mendorong untuk menggelorakan jiwa besar kepemimpinan anda dalam menghadapi tantangan yang bersifat kompleksitas, ketidakpastian, globalisasi disatu sisi lain dan disisi lain mampu melaksanakan paradigma baru yang bersifat profesionalisme, kreatif dan inofatif, antisipatif melalui peningkatan kemampuan untuk membangun prinsip-prinsip kepemimpinan yang harus konsisten dipertahankan yaitu 1) Kolaborasi ; 2) Komitmen ; 3) Komunikasi ; 4) Kreativitas individu ; 5) Kreativitas dalam kelompok ; 6) Inovasi organisasi ; 7) Analisa masa depan ; 8) Merespon kedalam antisipatif ; 9) Proses keputusan.

Jadi dengan penguasaan prinsip-prinsip kepemimpinan yang kita sebutkan diatas, diharapkan dapat menjadi dorongan kesiapn diri kedalam kebesaran jiwa kepemmpinan, anda akan menjawab bagaimana sebaiknya anda berperan dalam mewujudkan kekuatan pikiran anda mempengaruhi orang-orang yang ada disekelilingmu dengan membuat satu pertanyaan yang tidak mudah dijawab yaitu : Apakah saya berperan untuk mengembangkan calon emimpin ? ; Mengapa anda harus melahirkan pemimpin ? ; Dimana keberadaan potensi itu ada menurut pemimpin ? ; Kapan calon mengetahui bahwa ia dipersiapkan oleh pemimpin ? ; Bagaimana melaksanakan peran tersebut oleh pemimpin ?

3. PENUTUP

Usaha menggelorakan jiwa besar kepemimpinan ditandai oleh satu suasana dimana setiap orang mndapatkan akses informasi terbuka untuk setiap calon memiliki peluang terbuka dimana disatu sisi kita menghargai adanya kemenangan dari kemampuan tapi juga dari sisi kmampuannya dalam membangun kemenangan karena kerjasama. Oleh karena itu, kita menyadari sepenuhnya arti “tidak ada keberhasilan tanpa pengganti”

Buanglah jauh-jauh pikiran dari penglaman yang menggambarkan bahwa sebagian besar orang sukses tidak ingin orang lain tahu cara mereka menjadi sukses, maka dengan membangun kebesaran jiwa kepemimpinan bahwa dari pengalaman anda orang tahu karena begitulah cara anda bisa belajar begitu banyak, oleh karena itu apa gunanya mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang baik tetapi menyimpannya untuk diri anda sendiri.

Akhirnya kita hendak mengatakan bahwa “sukses di masa depan akan ada bila kebesaran jiwa kepemimpinan bisa diaktualisasikan dalam sikap dan perilaku untuk memahami denga menggerakkan kekuatan pikiran untuk menggerakkan kemampuan orang-orang yang berada disekeliling anda. Oleh karena itu, ingatlah selalu ungkapan seperti “sukses terjadi bila kesempatan dan persiapan bertemu”

Selengkapnya...

Membangun Pola Kepemimpinan Baru

November 1, 2007 by suaraatr2025

1. PENDAHULUAN

Pada dasarnya bahwa permasalahan yang timbul menuntut peran kepemimpinan untuk memecahkannya dan bila kita kaitkan dengan periodesasi, maka kita dapat mengunmgkapkan pola kepmimpinan lama kedalam : Sebelum tahun 1970, sifat masalah yang dihadapi adalah normal dan sering dihadapi sehingga segera dapat diidentifikasi penyebabnya, yang kita sebut dengan masalah normal biasa artinya pemecahan dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya internal yang tersedia ; Memasuki tahun 1980 sifat masalah yang dihadapi adalah normal tidak biasa karena tidak sering terjadi dan tidak mudah begitu saja diidentifikasi sehingga tidak segera dapat dipecahkan, walaupun akhirnya dapat dipecahkan dengan kemampuan internal organisasi ; Setelah tahun 1990 dimana kepemimpinan menghadapi masalah tidak normal dan sering diketemukan dalam daur hidup organisasi yang kita sebut dengan masalah kompleksitas dengan tingkat keruwetannya yang tidak mudah dipecahkan ; Memasuki tahun 1997 dan menjelang tahun 2001, masalah tersebut berubah dari tingkatan keruwetan / kompleksitas menjadi apa yang disebut “penyakit” kedalam daur hidup organisasi.

Pola kepemimpinan lama, hanya menekankan kepada pemecahan masalah sehingga kepemimpinan masa itu memasuki tahun 2001 berdasarkan usaha-usaha dengan memasukkan kekuatan intervensi dari luar untuk ikut terlibat memecahkan masalah yang dihadapi, tapi kenyataan yang dihadapi oleh kepemimpinan pola lama hanya menambah masalah baru sehingga kepemimpinan masa kini telah menunjukkan kehilangan kepercayaan diri untuk memanfaatkan pemecahan masalah yang bersandar kepada kekuatan internal sendiri.

Dari pengalaman masa kini dimana kepemimpinan telah tumbuh dan berkembang dari pengalaman masa lalu, telah menunjukkan suatu pola kepemimpinan lama tidak mampu menjawab tantangan masa depan, oleh karena itu diperlukan kompetensi menciptakan masa depan dengan meletakkan landasan yang kuat dalam perannya untuk mengorganisir kedalam bentuk suatu organisasi yang bergerak cepat, fleksibel, mudah dikontrol dan melakukan perubahan-perubahan secara sistimatis, berencana dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan lingkunga.


2. KEPEMIMPINAN POLA BARU

Membangun kepemimpinan pola baru diperlukan pemahaman suatu pendekatan yang kita sebut dengan pendekatan tiga dimensi peranan kepemimpinan masa depan. Tantangan yang dihadapinya harus memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, merumuskan dan memecahkan penyelesaian atas masalah normal dengan sifat masalah biasa dan masalah luar biasa dan masalah tidak normal dengan ifat masalah kompleksitas dan masalah penyakit.

Dengan memahami konsep peranan kepemimpinan pola baru dalam tiga dimensi diharapkan kepemimpinan anda mampu menuntun untuk mempengaruhi orang-orang dalam wujud kebersamaan untuk bersikap dan berperilaku. Jadi dalam kepemimpinan baru perlu menekankan tiga faktor yang sangat menentukan yang pertama disebut dengan “Wawasan” ; yang kedua disebut dengan “Penyelarasan” ; yang ketiga disebut dengan “Pemberdayaan”. Ketiga faktor itu membentuk kepemimpinan pola baru.

Wawasan merupakan langkah awal dalam peran kepemimpinan pola baru masa depan dalam menyeimbangkan perencanaan strategik (visi, msi, tjuan, sasaran, strategi) dengan pelaksanaan yang sejalan dengan budaya organisasi (nilai, norma, wewenang, ganjar), bla diperlukan diadakan penyesuaikan sesuai dengan tuntutan perubahan.

Penyelarasan merupakan langkah kedua dalam peran kepemimpinan pola baru masa depan dengan mewujudkan kebersamaan dalam tindakan melalui keterikan dalam “sistem” (seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas), “struktur” (cara bagaimana sesuatu disusun atau dibangun) dan “proses” (rangkaian tindakan, pembuatan atau pengolahan yang mengasilkan sesuatu). Penyelarasan dalam sistem, struktur dan proses merupakan tonggak untuk membangun komitmen yang diberikan pegawai atas pengorbanan diri sendiri untuk melaksanakan kepemimpinan kolaboratif.

Pemberdayaan merupakan langkah ketiga yang sangat penting dan strategis dalam peran kpemimpinan untuk mempersatukan wujud kepentingan yang seimbang antara kepntingan individu, kelompok dan organisasi.sebagai daya dorong untuk memotivasi perubahan sikap melalui pemberdayaan bakat yang tersembunyi, peningkatan kecerdikan emosioal dan membangkitkan pikiran kreativitas. Dengan melaksanakan pemberdayaan tersebut diharapkan lahirnya komitmen dari diri sendiri untuk berperilaku dalam memenuhi kebutuhan bagi pihak-pihak yang berkepentingan sejalan dengan kemampuan untuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi agar perubahan-perubahan dapat dilakukan.

3. PENUTUP

Kepemimpinan pola baru sangat kita perulukan sejalan dengan menghadapi situasi ketidakpastian masa depan dalam memasuki milenium ketiga yang mampu mengelola masa kini sekaligus menciptakan masa depan. Untuk menunun peran kepemimpinan maka diperlukan menekankan kesimbangan kebutuhan akan “Wawasan” ; “Penyelarasan” dan Pemberdayaan orang”.

Dengan menumbuhkan dan meningkatan ketiga faktor tersebut diharapkan terjadi perubahan sikap dan perilaku dari keterampilan manajerial “pemecahan masalah” menjadi “menghindari masalah” artinya memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi peluang-peluang dari ketidakpastian dari sikap antisipatif disatu sisi dan disisi lain mampu merumuskan masalah masa kini kedalam tiga kelompok yang disebut dengan masalah “kritis” ; “pokok” dan “insidentil” dalam proses pemecahan masalah yang tidak hanya bersandarkan kepada sikap reaktif melainkan juga proaktif.

Jadi dengan membangun kepemimpinan pola baru diharapkan menjadi pendorong untuk mewujudkan effektivitas pribadi yang positif sebagai seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang akan mendukung kemampuan mengelola berbasiskan budaya organisasi sebagai landasan untuk menggerakkan kekuatan sumber daya internal dan melepaskan diri dari ketidak yakinan kemampuan sendiri sebagai kunci keberhasilan dalam memecahkan masalah normal dan tidak normal.
Selengkapnya...

Kepemimpinan Dalam Tantangan Abad 21

October 23, 2007 by suaraatr2025

Titik perhatian yang hendak diungkapkan disini bukanlah sebagai seorang yang “futurism” seperti John Naisbitt, Alvin Toeffler dan sebagainya, yang mengungkap tentang “content futurism” artinya mengungkapkan informasi mengenai masa depan, melainkan dari sisi “proses futurism” artinya memikirkan pusat perhatian bagaimana cara memanfaatkan arti informasi itu menjadi bermanfaat dalam memasuki abad ke 21.

Bertitik tolak dari pemikiran diatas, maka disini akan mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan tantangan yang kita hadapi yang situasi tersebut dapat menjadi kekuatan, kelemahan, kesempatan dan hambatan sbb. :


PERTAMA, Mengapa kita membutuhkan pandangan untuk melihat masa depan kedalam persfektif manajemen ?

Dengan melihat masa depan akan dapat memberikan daya dorong melihat masa kini berdasarkan masa lampau agar kita selalu siap bersikap dan berperilaku yang bersifat “proaktip” sebagai keterampilan abad baru.

KEDUA, Apakah yang menjadi daya dorong dalam mengantisipasi yang secara dramatis dan memiliki kekuatan untuk menghadapi masa depan ?

Dalam hal ini dapat kita ungkapkan hal-hal yang perlu diperhatikan kedalam persfektif manajemen yang mencakup :

* Ekonomi global dalam globalisasi dunia tanpa batas.
* Kemajuan teknologi web dan aplikasi internet.
* Perkembangan lingkup kerja global.
* Bertambahnya pengaruh dari para langganan.
* Kepentingan steakholders
* Perkembangan aplikasi manajemen pengetahuan.
* Keragaman dan mobilitas tempat kerja.
* Meningkatnya persaingan dan secara agresif melawan terhadap peningkatan pangsa pasar dalam penciutan pasar.
* Tersedianya pengetahuan dan permintaan pelanggan yang menginginkan terbaik untuk nilai uang mereka. Kepuasan pelanggan meningkat menjadi basis mempertahankn dan pertumbuhan.
* Biaya-biaya meningkat dimana-mana dan tingkat bunga yang tinggi.
* Sistim-sistim ekolologi yang terus meningkatkan kerusakan secara tetap dalam kehidupan kita.

KETIGA, Dimanakah area utama dari perubahan yang secara signifikan akan berdampak atas praktek pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia ?

Terdapat enam area yang sangat signifikan dalam perubahan adalah :

1. Tekanan produktivitas di tempat kerja dimana setiap organisasi beru-saha dengan cara menghasilkan biaya yang rendah dengan kualitas produk dan jasa yang tinggi.

2. Langkah perubahan akan berlajut terhadap akselarasi . Putaran waktu akan berkurang, pemanfaatan dari daur informasi akan meningkat, kerja akan berubah sesuai dengan teknologi maju dan akan menjadi lebih mudah tersedia.

Organisasi yang kerja dengan waktu yang kurang akan memiliki keuntungan kompetitip.

3. Menjadi lebih fokus bisnis yang diarahkan kepada pelanggan dan kualitas dimana setiap pegawai jelas sekali memahami nilai tersebut kedalam area baik pelanggan internal maupun external.

4. Dalam banyak organisasi pada perencanaan dan tindakan di arena global. Pasar, tempat sumber daya, kompetisi, kerjasama yang kesemuanya melintasi batas nasional. Adakalanya kompetitir sebagai pemasok atau bahkan sebagai pelanggan. Dalam jangka pendek, hubungan-hubungan menjadi komplex, menjadi batas-batas organisasi dan lingkungannya.

5. Strategi-strategu bisnis akan menjadi lebih bergantung atas kualitas dan personalitis dari sumber daya manusia. Sesuatu yang tidak mungkin tanpa manusia yang berkemampuan dan berkompete untuk mentransformasi strategi, sedangkan organisasi hanya menyediakan uang dan teknologi dan tidak membawa manusia yang siap mandiri, khusnya yang terkait dengan pengetahu-an, sikap, keterampilan dan keinginan untuk merubahah sesuatu yang utama dalam keunggulan bersaing.

6. Struktur dan rancangan kerja akan berubah secara deramatis yang dimulai dengan membangun perubahan itu sendiri. Walaupun telah dilakukan batasan kerja individu dan kerja dalam suatu tim yang lebih banyak memberikan partisipasinya dengan lebih bertanggung jawab dan fleksibel. Tapi yang sangat menentukan keberhasilan adalah manusia itu yang berubah di angkatan kerja, yang memberikan dorongan dalam merespon pengembangan sumber daya manusia.

KEEMPAT, Bagaimana merespon seluruh perubahan masa lampau dan perubahan dalam abad baru ini dimana individu dan organisasi dapat menjawab tantangan perubahan tersebut ?

Dalam hal ini terdapat tiga hal yang terkait atas masalah tersebut yang signifikan terutama yaitu :

* Kita dapat mengharapkan untuk menjembatani dalam cara organisasi meneva-luasi dampak intervensi orientasi sumber daya manusia. Apa nilai dari beragam pelatihan atau praktek kerja ? Apa perbedaan pengembangan tim membuat terhadap kualitas keputusan tim dan kemampuannya menyelesaikan keputusan ? Adakah pertimbangan usaha-usaha manajemen karir sungguh-sungguh memperbaiki tersedia keterampilan tepat waktu ? Bentuk-bentuk pertanyaan ini akan ditanyakan selalu dan jawaban atasnya diberikan dengan tidak ada keraguan.

* Kita dapat mengantisipasi yang lebih besar kerumitan dan beragam dalam teori-teori dan alat-alat pengembangan sumber daya manusia. Artifisial intelejen dan aplikasi pelajaran lebih baik dariantropologi, psykologi, sosiologi dan pendikan dengan bermain. Juga para praktisi orang yang mendengar kebutuhan organisasi mereka akan terus menciptakan dan menyumbangkan pendekatan, teknik dan ide baru.

* Akhirnya, kita menggerakkan kedalam era solusi sistim dimana memusatkan terhadap isu-isu pemecahan ulang atau membuat perubahan-perubahan nyata terhadap pelaksanaan program. Pemecahan masalah dan perubahan biasanya memerlukan banyak dan beragam tindakan-tindakan (seperti pelatihan, perubahan kebijaksanaan plus, rancangan pekerjaan plus). Perbaikan kualitas umpamanya atau memfokuskan terhadap pelanggan, atau peningkatan pro-duktivitas memerlukan lebih dari satu yang bertanggung jawab ( tunggal menjadi efektif untuk jangka pendek, tapi jangka panjang tidak). Kebanyakan dari pentingnya perubahan akan dan menjadi kelemahan secara sistimatik. Pengembangan sumber daya manusia akan melibatkan alat-alat dan solusi secara analitis untuk memenuhi kebutuhan

KELIMA, Identifikasikan, pelatihan dan pengembangan angkatan kerja dalam abad 21 ini akan memerlukan asumsi-asumsi baru, gaya dan keterampilan dari praktisi dan profesionalisme pengembangan sumber daya manusia.?

Identifikasi dan pengembangan dari sumber daya manusia untuk ekonomi global akan berperan dipundak HRD. HRD akan menjadi pusat dalam ekonomi global sebagai profesi dan sebagai satu fungsi korporasi.

Pemikiran pertama kita butuhkan perubahan cara berpikir. Kita harus secera cepat belajar untuk melihat organisasi dalam kontek global bahkan bila kita tidak mungkin beroperasi diluar batas nasional. Kita harus berubah dari pandangan yang sempit organisasi, kecenderungan melihat hanya isu-isu organisasi internaldan memulai mengembangkan pikiran yang lebih besar dari bagaimana bisnis yang dimiliki tetap berhasil dimasa yang akan datang.

Belajar dari pengelaman tidak akan kerja lebih lama. Apa yang selalu dikerjakan sebelumnya sekarang tidak akan dikerjakan. Apa yng selalu kerja dirumah mungkin kelemahan yang terbesar. Sebagai praktisi HR, produktivitas sebenarnya dan keberhasilan bergantung tiga hal yaitu :

* Bagimana keterampilan dan kompetensi kita saat ini berada.

* Bagaimana jelasnya kita merumuskan dan memproritaskan kebutuhan strategik dan fungsi organisasi.

* Bagaimana efektipnya kita mengidentifikasi dan mengembangkan manusia dengan keterkaitan atas sikap, pengetahuan dan keterampilan

Akhirnya kesimpulan yang hendak kita ambil dari menghadapi tantangan abad ke 21 ini, bagimana yang sebaiknya agar membangun dan melaksanakan pemikiran kebiasaan yang produktif menjadi konsepsi atau paradigma baru dalam persfektif manajemen

Abdul Talib Rachman


Selengkapnya...

Kepemimpinan Dalam Pemahaman Konsep

October 23, 2007 by suaraatr2025

Membicarakan persfektif manajemen berarti ada sesuatu yang ingin kita ungkapkan dimana disatu sisi manajemen berbicara seperangkat pengetahuan (apa yang harus dilakukan dan mengapa), keterampilan (bagaimana melaksanakan) dan keinginan (mau melakukan) tentang usaha manusia mencapai tujuan dengan memaksimumkan sumber daya yang tersedia secara produktif (efisein, efektif dan kualitas), sedangkan disisi lain persfektif membicarakan kemampuan berpikir strategis untuk melihat segala sesuatu di masa depan.

Kemampuan berpikir strategis merupakan kebutuhan bagi setiap pemimpin masa depan, tanpa kemampuan itu sangat sulitlah ia menerapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menggerakkan orang dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan, oleh karena itu banyak pemimpin menguasai informasi tapi ia tidak mampu memanfaat informasi menjadi berguna.

Sejalan dengan pemikiran diatas, maka kepemimpinan masa depan sangat ditentukan kemampuannya untuk menggerakkan kemampuan berpikir dalam kerangka persfektif artinya ia memiliki kemampuan mengungkapkan situasi dalam gelom-bang perubahan karena perubahan akan selalu ada dimana-mana sehingga pemahaman yang mendalam memanfaatkan otak dan hati dalam mewujudkan antisipasi.


Antisipasi adalah keterampilan baru untuk menggerakkan kemampuan yang terkait dalam pemikiran analisis strategis dimana ia mampu mengungkapkan segala sesuatu yang belum terjadi. Inilah keterampilan yang sangat perlu dan penting dalam membicarakan apa yang kita sebut dengan persfektif.

Dengan mengungkapkan persfektif dari hasil analisis strategis sebagai satu usaha untuk meramalkan sesuatu yang harus dihindari dimasa depan, maka dengan melaksanakan manaje-men yang benar diharapkan kita mampu untuk menciptakan peluang-peluang dalam masa ketidak pastian.

PERSFEKTIF bila kita uraikan dari huruf menjadi kata ber-makna kita dapat merumuskan sutu konsep dalam pemahaman bahwa PERSFEKTIF adalah P)erencanaan analisis strategi sebagai (E)sensi merumuskan hal-hal yang berkaitan dengan (R)erolakasi terhadap (S)umber daya sebagai satu (F)aktor penentu (E)konomi untuk keberhasilan dengan memanfaatkan (K)eterampilan dalam (T)eknologi dan (I)nformasi sebagai (F)ondasi dalam mewujudkan keputusan strategik.

Pemahaman kata persfektif yang dirumuskan diatas diharapkan akan menjadi alat pendorong sikap dan perilaku agar semua rumusan dalam kerangka berpikir ANTISIPATIF mampu meramalkan keputusan strategik.

Dengan pemanfaatan otak dan hati dalam kerangka kemampuan berpikir antisifatif, maka dengan menggerakkan kompetensi agar komponen memahami apa yang dapat mempengaruhi, cara berpikir yang dalam mencari jawaban lebih dari satu arah, lebih terfokuskan, mampu menggambarkan jalan yang akan ditempuh, maka keseluruhan proses berpikir itu disebut analisis strategis.

Jadi merumuskan persfektif akan memberikan hasil yang memuaskan bilamana kompetensi untuk membuat satu analisa strategis dipenuhi sehingga informasi yang tersedia dapat dimanfaatkan sebagai langkah untuk membuat antisipasi yang lebih terarah, terpadu dan kompeherensip.

Sebaliknya pemahaman konsep manajemen bila kita rumuskan dari huruf menjadi kata bermakna, akan memberikan petunjuk kedalam operasionalnya artinya bagaimana anda menerapkan-nya dalam pelaksanaan. Jadi huruf dalam kata manajemen dapat dirumuskan sebagai berikut : MANAJEMEN adalah kemam-puan dalam (M)engelola penggunaan sumber daya yang tercantum sebagai (A)ktiva untuk mewujudkan (N))ilai tambah ekonomis ( economic value added) menjadi (A)kseptasi untuk memberikan (J)aminan atas (E)kuitas yang ditanam sebagai (E)misi akan (N)aik sejalan dengan pertumbuhan usaha.

Pemahaman manajemen yang dikemukakan diatas mendjadi satu kekuatan bagi pemimpin bertanggung jawab dalam menjamin pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan selalu siap memasuki gelombang ketidak pastian menjadi peluang.

Jadi manajemen haruslah dipandang bukan saja dalam arti abstrak tetapi juga dipandang dari konkrit artinya manajemen sebagai keterampilan membutuhkan kompetensi tertentu. Dengan keterampilan itu bagi pemimpin akan selalu mampu menggerakkan sumber daya manusia untuk dapat memaksi-mumkan sumber daya yang lain dalam mewujudkan tujuan yang hendak dicapai.

Keterampilan tertentu tersebut harus dikembangkan menjadi kompetensi dalam manajerial, organisasi, teknik dan informasi sehingga manajemen dapat dipahami dalam arti praktis yang dapat diaktualisasikan kedalam sikap dan perilaku yang bersifat proaktif. Sikap dan perilaku proaktif akan mampu mendorong kemampuan dalam kompetensi tertentu dengan memanfaatkan manajemen dari kebiasaan memecahkan masalah menjadi menghindari masalah.

Dalam pemahaman konsep diatas, maka bila kedua kata itu disatukan menjadi persfektif manajemen berarti kita melihat dari sisi bagaimana seharusnya ia diaplikasikan menjadi kenyataan dalam praktek.

Dengan pemahaman itu, maka aplikasi persfektif manajemen disini kita maksudkan adalah penguasaan seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang dapat memberi kekuatan kepemimpinan dalam mewujudkan keinginan agar dapat memberikan motivasi dalam menciptakan keseimbangan kepentingan individu, kelompok dan organisasi.

Pengetahuan, keterampilan dan keinginan tersebut harus ditumbuh kembangkan menjadi suatu kebiasaan yang produktif untuk mendukung kemampuan dalam pemikiran strategis, jangka panjang dan pendek dalam organisasi dan menjadi pendorong lahirnya kompetensi-kompetensi manajerial, teknik, informasi dan organisasi.

Kemampuan-kemampuan tersebut harsulah dapat dipandang sebagai satu kebiasaan yang prodktif yang menunjukkan kekuatan-kekuatan dan atau kelemahan-kelemahan artinya dari sisi kekuatan-kekuatan akan berdampak mendukung keberhasilan persfektif, posisi dan performa, sebaliknya dari sisi kelemahan-kelemahan akan menghambat keberhasilan.

Untuk mendukung pemahaman persfektif manajemen agar dapat diaplikasikan kedalam suatu organisasi yang efektif dan mudah dikontrol dibutuhkan kesungguhan untuk membangun kebiasaan yang produktif artinya diperlukan peningkatan yang berkelanjutan atas pengetahuan yang diperoleh dari informasi, keterampilan yang diperoleh dari pengalaman dan keinginan yang sejalan dengan sikap dan perilaku untuk menyesuaikan dengan tuntutan perubahan.

Maka seperangkat kebiasaan yang produktif menjadikan pondasi yang selalu ditumbuh kembangkan sebagai usaha-usaha pengembangan sumber daya manusia agar ia selalu siap beradaptasi terhadap gelombang perubahan yang terus bergerak tanpa berakhir.

Sejalan dengan pemikiran itu maka diperlukan pilar-pilar sebagai tonggak untuk menahan setiap perubahan artinya selalu siap menghindari masalah, sehingga ia mampu berpikir, bekerja dan belajar untuk menuntun dalam membangun kebiasaan yang produktif .

Abdul Talib Rachman
Selengkapnya...

Kepemimpinan Menatap Masa Depan

October 23, 2007 by suaraatr2025

Menatap masa depan, kita akan selalu dikejutkan oleh gelombang perubahan, siapkah kita menghadapi tantangan abad baru ini yang sudah kita masuki dalam milenium ketiga, oleh karena itu terimalah perubahan itu yang sedang bergerak dari masyarakat informasi menuju ke masyarakat pengetahuan.

Sebagai jawabannya, tulisan ini kami susun sejalan dari hasil renungan untuk mengendalikan dorongan hati dalam memikirkan hal-hal yang sedang kita hadapi, untuk menempatkan hal-hal tersebut dalam persfektif yang diyakini kedalam pemahaman atas paradigma abad baru, manusia seutuh, dan kebiasaan yang produktif.

Melalui tulisan ini, kami mencoba untuk dapat mendengarkan intuisi kami dan mengutarakannya dari huruf menjadi kata-kata yang bermakna menjadi untaian kata paradigma abad baru, manusia seutuh dan kebiasaan produktif sebagai berikut, maka bila kata kita uraikan dari untaian huruf, maka yang dimaksud dengan :


PARADIGMA adalah gambaran (P)enomena yang terjadi secara (A)lamiah yang perlu dipikirkan kedalam (R)rformasi untuk menghindari dampak kepada (A)ngkatan kerja yang menyesuaikan dengan (D)imensi yang menunjukkan (I)ndikasi terhadap (G)ejala yang akan mempengaruhi (A)ktivitas masa depan.

ABAD adalah suatu (A)nalisis yang merumuskan (B)atasan-batasan sebagai (A)turan yang harus berubah untuk (D)ilaksanakan sesuai dengan tuntutan zaman.

BARU adalah tindakan yang harus (B)erorientasi kepada (A)manat dalam bersikap RESPONSIP karena akan berlaku secara (U)niversal

MANUSIA adalah (M)ahkluk dalam perjalanan hidupnya akan selalalu memiliki (A)ktivitas yang digerakkan oleh (N)aluri dalam (U)saha mencari (K)eseimbangan antara (I)ntelektual dan (A)gama yang dianutnya

SEUTUH adalah gambaran (S)ikap dari suatu (E)mberio sebagai (U)mmat yang mengakui keberadaan (T)uhan dalam (U)sahanya untuk melaksanakan (H)ijrah dalam menuju kesempurnaan yang diridhoi oleh yang maha kuasa.

KEBIASAAN adalah (K)epribadian berlandaskan (E)tika yang menjadi kekuatan (B)erpikiir secara (I)intuisi (hasil kerja hati) yang diputuskan oleh (A)kal sebagai suatu S)arana dalam mewujudkan A)malan dari kemampuan (N)alar yang dipikirkan secara mendalam.

PRODUKTIF adalah Berpikir secara P)rofesional kedalam proses yang (R)asional dengan memanfaatkan (O)tak yang memiliki (D)imensi (sisi otak kiri atas, sisi otak kanan atas, sisi otak bawah sadar) untuk merumuskan (U)kuran (efisien, efektif, berkualitas) dalam mencapai (K)eberhasilan dari (T)indakan yang dilakukan secara (I)ndividual sebagai (F)alsafah dalam menjalankan hidup ini.

Bertitik tolak dari pemikiran kami diatas, kami sampai pada suatu kesimpulan dalam perjalan hidup ini bahwa hari ini kami melepaskan pengelaman yang berdampak menyakitkan diri ini dan memahami arti apa yang dibawa oleh pengalaman itu dalam proses perubahan.

Dengan mengungkapkan pengalaman masa lalu, dan kita menjalani masa kini dengan penuh harapan, menatap ke masa depan sebagai kerangka berpikir dengan memahami dan menghayati makna hurup menjadi kata bermakna kedalam untaian kalimat menjadi rumusan sebagai suatu pendekatan dalam menghadapi tantangan abad 21 menjadi gambaran persfektif manajemen dalam kesiapan memasuki masyarakat pengetahuan.

Kerangka tersebut kami tuangkan kedalam suatu konsep berpikir yang akan menuntun kita sebagai sesuatu yang terlihat dalam ketakutan dan hidup dalam pengharapan yang mengarah kepada kehidupan untuk berpikir, bekerja dan belajar, menghadapi tantangan abad 21

Berdasarkan pemikiran diatas, kita dapat memanfaatkan penguasaan wawasaan dan imajinasi yang dijabarkan kedalam pemikiran intuisi yang mengarah kepada persfektif ; menuangkannya kedalam pemikiran rencana jangka panjang yang mengarah kepada posisi ; melaksanakan pemikiran kedalam rencana jangka pendek yang mengarah kepada performa dalam merumuskan faktor produksi dan faktor intelektual kedalam pemahaman konsep, tantangan, strategi dalam menghadapi tantangan abad 21 melalui pemanfaatan otak dalam berpikir, kepemimpinan dalam organisasi, daur hidup perusahaan, mengelola berdasarkan budaya, mengelola perubahan.

Mengelola faktor produksi dan intelektual melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan kedalam organisasi berbasiskan pengetahuan, membangun organisasi pembelajaran, mengelola sumber daya manusia, dan mengelola pengetahuan,

Apa yang hendak kita arahkan dalam kerangka berpikir diatas adalah mengelola hasil yang hendak dicapai dengan tingkat produktivitas yang tinggi dalam efesiensi, efektif dan berkualitas, yang berdampak dalam peningkatan nilai tambah sebagai kunci kemakmuran dalam berbangsa dan bernegara.

Kesimpulan dari tulisan ini hendak menekankan bahwa kunci keberhasilan kepemimpinan abad baru ini sangat ditopang oleh adanya konsep menata dan mengembangkan kebiasaan yang produktif dalam bersikap dan berperilaku agar setiap peran, fungsi, tugas, kerja dapat dimaksimumkan sejalan dengan tuntutan perubahan, sehingga setiap orang merasa dilibatkan dalam perubahan itu sendiri.

Abdul Talib Rachman.

Selengkapnya...